Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Lima Ton Limbah Uang Rusak BI Aceh Jadi Bahan Bakar Semen PT Solusi Bangun Andalas

Sabtu, 01 Agustus 2026 | Agustus 01, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-08-01T05:48:23Z


GARANG NEWS | BANDA ACEH – Bank Indonesia Perwakilan Provinsi Aceh menyerahkan lima ton limbah racikan uang kertas (LRUK) kepada PT Solusi Bangun Andalas (SBA) di Lhoknga, Aceh Besar, Kamis (30/7/2026). Limbah uang tidak layak edar itu akan digunakan sebagai bahan bakar alternatif pengganti sebagian batu bara dalam produksi semen.

Kerja sama ini menjadi solusi pemusnahan uang rusak yang lebih ramah lingkungan. Sebelumnya, uang yang ditarik dari peredaran harus dimusnahkan dan dibuang ke tempat pembuangan akhir (TPA).

Lima Ton Tahap Awal, Volume Berikutnya Fleksibel
Kepala Perwakilan BI Provinsi Aceh, Agus Chusaini, mengatakan lima ton limbah yang diserahkan hari ini merupakan hasil racikan uang tidak layak edar dari seluruh Aceh. 

“Yang dikirim hari ini ada lima ton. Untuk berikutnya nanti kita sesuaikan tergantung jumlah uang tidak layak edar yang masuk ke kami,” ujar Agus usai penandatanganan kerja sama dengan PT SBA.

Agus menjelaskan, limbah tersebut berasal dari uang yang secara fisik rusak atau tidak memenuhi standar kelayakan edar. Sebelum dikirim, uang diracik tanpa membedakan nominal maupun pecahan.

Ia berharap kerja sama ini berlangsung berkelanjutan. Selain membantu pasokan energi industri semen, langkah ini juga memangkas volume limbah yang selama ini dibuang ke TPA.

“Kami berharap ini bisa membantu SBA menambah pasokan bahan bakar, sekaligus meringankan beban kami karena tidak perlu lagi membuang limbah tersebut ke TPA,” katanya.

Banjir Picu Penukaran Uang Rusak dari Perbankan
Dalam kesempatan yang sama, Agus menyinggung dampak banjir di sejumlah wilayah Aceh terhadap peredaran uang. Namun, ia menyebut jumlah masyarakat yang menukarkan uang rusak akibat banjir relatif sedikit.

“Kalau dari masyarakat tidak terlalu banyak, karena biasanya uang yang sudah kotor masih tetap dibelanjakan dan diterima. Berbeda dengan di bank, jika uang sudah kotor maka tidak boleh diedarkan lagi dan harus dikembalikan ke BI untuk dimusnahkan,” jelas Agus.

Menurutnya, penukaran dalam jumlah besar justru berasal dari perbankan yang kas atau brankasnya terendam banjir.

BI Aceh menilai kerja sama dengan PT SBA ini efisien untuk pengelolaan UTLE sekaligus mendukung pemanfaatan energi alternatif di sektor industri. PT SBA sendiri merupakan salah satu produsen semen besar di Aceh yang terus berupaya mengurangi ketergantungan pada batu bara.

Sumber: http://bithe.co
×
Berita Terbaru Update