GARANG NEWS | JAKARTA – Sebuah tulisan reflektif berjudul _“Bukan kematian yang paling menakutkan”_ viral di media sosial dalam beberapa hari terakhir. Tulisan tersebut mengajak pembaca merenung tentang ketakutan terdalam manusia: kehilangan diri demi menemukan Tuhan.
Dalam esai itu, penulis menegaskan bahwa kematian, kehilangan, maupun kesepian bukanlah hal yang paling menakutkan. "Sebab mati hanya sekali, dan selesai. Sebab yang hilang, sejak awal tak pernah benar-benar kita miliki," tulisnya.
Inti dari tulisan tersebut terletak pada gagasan bahwa rasa takut terbesar manusia muncul saat semua "sandaran hati" satu per satu diambil. Saat orang yang dicinta menjauh, harapan runtuh, dan doa terasa tidak segera dijawab.
"Yang paling ditakuti manusia… adalah saat Tuhan mulai mengambil satu per satu sandaran hatinya," demikian penggalan yang paling banyak dikutip warganet.
Penulis menggambarkan proses itu sebagai momen ketika manusia dipaksa berdiri tanpa penopang selain iman yang rapuh. Puncaknya adalah saat "aku" dikosongkan dari pujian, rasa memiliki, dan identitas yang selama ini dibanggakan.
"Padahal di situlah pintunya. Di saat 'aku' runtuh... di situlah Tuhan berbisik: 'Jika engkau tak lagi punya apa-apa… maka engkau akhirnya punya Aku sepenuhnya,'" lanjut tulisan tersebut.
Esai ini memicu beragam tanggapan. Banyak netizen mengaku tersentuh dan merasa "ditampar" oleh kalimat-kalimatnya. Sebagian menyebut tulisan itu sebagai pengingat untuk tidak bergantung pada dunia dan ego.
Pengamat literasi, Dr. Ahmad Faizi dari Universitas Islam Negeri Jakarta, menilai tulisan ini berhasil karena menyentuh keresahan spiritual generasi saat ini.
"Di tengah bisingnya media sosial, orang justru haus akan narasi yang menenangkan dan membuat kita jujur pada diri sendiri. Tulisan ini memberi ruang itu," ujarnya kepada garangnews.com, Selasa 4 Agustus 2026.
Hingga berita ini diturunkan, identitas penulis asli belum diketahui secara pasti. Namun tulisan ini telah dibagikan ribuan kali di Instagram, TikTok, dan WhatsApp dengan latar musik dan video estetik.(*)